Harapan



Harapan adalah nafas dan pencapaian adalah muaranya. Ada yang bilang, hidup tanpa harapan sama dengan mati karena esensi hidup tidak ada lagi. Bukankah hidup ini dibuat sebagai lahan perjuangan? Lantas, kalau tidak ada yang diperjuangkan buat apa hidup?

Saya senang melihat rupa-rupa harapan dan mimpi, saya senang mendengar cerita seorang kawan menanti hasil perjuangannya untuk bisa sekolah ke luar negri, saya bahagia melihat sepasang tuna netra yang berjalan bergandengan sambil mengabarkan bahwa ia buka pijat tuna netra, dan saya buncah melihat anak-anak di belahan bumi mana pun tersenyum, karena ia tahu ada nafas yang ia punya untuk berjuang mewujudkan harapannya.


Tak elok rasanya mengecilkan harapan seseorang. Saya belajar ini dari film Cita-Cita Setinggi Tanah. Seorang anak dicemooh karena cita-citanya hanyalah untuk bisa makan di rumah makan Padang, padahal cita-cita kawan lainnya terdengar mentereng, ingin jadi presiden, ingin jadi penyanyi dangdut, ingin jadi banyak yang tinggi-tinggi. 

Hei, apa yang salah dengan ingin makan di warung makan Padang? Cita-citanya adalah kebutuhannya, dan kebutuhan itu tidak bisa disubtitusi dengan kebutuhan orang lain meskipun nilainya nampak lebih tinggi. Anak ini ingin makan di rumah makan Padang karena saban hari ayah dan ibunya yang pengrajin tempe selalu memasak tempe. Hari ini tempe digoreng, besok tempe dibacem, lusa tempe disayur, ia ingin sesekali makan rendang, makan gulai ayam, kebutuhannya hanya itu, bukan yang lain, meskipun kalau jadi presiden dia juga bisa makan apa saja sih tapi kalau makan masakan padang saja cukup kenapa harus memaksakan diri untuk menginginkan yang lain?

Sebenarnya, film itu sangat amat menghibur saya hehe. Saya merasa sama dengan tokoh yang ada di film, tidak punya harapan dan cita-cita tinggi. Dari dulu keinginan saya sederhana-sederhana saja. Saya tidak ingin sekolah ke luar negri, jangankan ke luar negri, lanjut S1 dalam negri saja saya tak ingin. Saya tidak suka kerja keras, selalu main di zona nyaman, karena suka ngomong maka saya jadi penyiar. Dulu saat suka mengajar ya saya jadi guru, tapi setelah bosan, pekerjaan itu saya lepaskan tanpa menyisakan sedikit pun perasaan menyesal. Dan semakin tua, harapan saya makin sederhana lagi, saya hanya ingin Allah ridho dengan apa yang saya lakukan dan kalau itu artinya saya harus melepaskan pekerjaan saya yang sekarang, maka akan saya lakukan juga. 

Jika seorang wanita menunaikan shalat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya dan menaati suaminya; niscaya akan dikatakan padanya: “Masuklah ke dalam surga dari pintu manapun yang kau mau”. (HR. Ahmad dari Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu’anhu dan dinyatakan hasan oleh Syaikh al-Albany).


Dunno why tapi hadits di atas semacam jadi penghiburan juga buat saya, semacam... tugas saya berarti "hanya" sholat, puasa, menjaga kemaluan (ini maksudnya ga berzina kan? Atau ada tafsir lain?) dan jadi istri yang baik, terus saya boleh milih pintu mana aja buat masuk surga ya Allah.... Sederhana kan? Segala yang sederhana itu saya banget. :D

Well, sebenarnya dari hal-hal yang nampaknya mudah itu, kalau imbalannya besar berupa surga, pasti nggak mudah sih. Wajar itu. Tapi setidaknya, apa yang mudah dibayangkan maka akan menyenangkan untuk dilakukan. Eh iya nggak sih? Semoga. 

Jadi selamat menanam harapan semuanyaaa.... Selamat bernafas dengan bahagia sesederhana apapun itu.



pict: di sini

Comments