Posts

Showing posts with the label cerpen

Gelombang!

Image
Impian, kata orang harus dikejar. Namun kadang harus dialihkan untuk sesuatu yang lebih besar. Gelombang, melihat ibunya duduk di kursi teras rumah, membuka sebuah album foto usang yang diambilnya dari bawah meja. Dibuka, lalu tak berapa lama berhenti, tangan ibunya menahan di satu sisi. Matanya seperti betah berlama-lama melihat sebuah pose pada lembaran itu. Tangan  ibu menyapu segaris senyum yang tersungging di sana.Bungah, dan Gelombang tahu foto siapa yang sedang dilihat ibu. "Ayah lagi?" Gelombang menyentuh pundak ibunya, memijit perlahan-lahan.  Perempuan yang tidak lagi muda itu menyambut tangan anaknya lalu menciumnya, "selalu." "Bu," Gelombang berjalan memutar, duduk begitu saja di lantai, menyandarkan kepala di lutut ibunya. Dia sudah berusia dua lima tapi baginya tidak ada batasan waktu bagi anak yang ingin menunjukkan rasa cinta pada orang tua, "Sudah lima belas tahun, bu. Ibu tidak berniat..." "Menikah l...

Seminggu Bersama Mikail

Image
"Aku ingin jadi ayah." Hah! Apa-apaan sih anak  ini? Ia menoleh ke arahku sambil menunjukkan mulutnya yang cemong terkena es krim, tangannya juga kotor dan lengket, iih . Kami berdua sedang duduk di sebuah bangku taman dengan danau buatan menjadi pemandangan yang terhampar di depan kami.  "Boleh kan Yah, aku jadi ayah seperti ayah?" "Memang siapa sih yang bilang kalau aku ini ayahmu?" "Tentu saja Ibu, siapa lagi?" Sekarang anak kecil ini memutar lidahnya, menyapu pinggiran bibir sampai bersih. Ya, Tuhan, masak sih dia anakku? Ya, ya, menurut sebuah keterangan dia memang anakku. Tapi setelah kuingat-ingat dia anak yang tidak sengaja kubuat. Maksudnya, waktu itu kami (aku dan ibu dari anak ini)  sama-sama tidak menyangka bahwa apa yang kami lakukan  sembilan tahun silam di toilet sekolah bisa menghasilkan makhluk ajaib seperti ini. Makhluk yang memiliki wajah mirip dengan ku. Matanya adalah mataku, hidungnya juga hidungku, ...

Valdi Valdo

Image
Aku mengaguminya semenjak kecil. Semenjak pertama kali ia pindah menempati rumah kosong bekas rumah om Eddy. Aku mengaguminya yang  bisa bersenang-senang dengan apapun. Iya, APAPUN, bahkan tanah becek dan hujan deras.  Sore itu hujan turun lebat sekali. Suara petirnya membuatku  bolak balik dari pinggir jendela lalu ke kamar mama, lalu ke pinggir jendela lagi untuk mengintipnya. Ia hanya mengenakan kaos singlet dan celana pendek lalu meletakkan payung di samping yang akhirnya berbalik karena tertiup angin. Ia jongkok di atas kubangan berwarna coklat susu, menaruh sebuah kapal kertas yang langsung hancur, tidak kuat menerima air dari langit yang bertubi-tubi. Tapi ia tetap asik, tetap tertawa ria, bahkan sekarang ia duduk tidak jongkok lagi. Ia biarkan kertas yang jadi bubur itu. Kini aku tidak punya ide tentang apa yang akan ia lakukan. Lalu tiba-tiba, ia menghampiri payung yang terbalik tadi- sudah ada genagan air di sana, ia mengangkatnya pelan-pelan, masih dal...

Kulkas

Sketch bookku habis... apa aku boleh menggambar di tubuhmu? Mewarnainya dengan darahmu sendiri yang merah-merah seperti strawberry. Aku janji akan kulakukan pelan-pelan. Dari lapisan kulit paling luar, disobek sedikit saja dengan cutter. Lalu cutter itu kutekan dengan kekuatan paling lemah yang kupunya, sampai titik berwarna merah muncul ke permukaan kulitmu. Tidak sakit kan? Tahan sedikit yang setelah ini lebih menantang. Cutter yang dari tadi terdiam itu kuajak jalan-jalan menjelajahi lenganmu, whoops warna strawberry nya mengucur-ngucur. Lantai kamarmu jadi ikut  merah, tenang-tenang tidak usah mendelik begitu nanti kubersihkan. Kan selama ini memang aku yang membersihkan rumahmu. Bahkan membersihkan kotoranmu. Membersihkan sisa-sisa pestamu dengan wanita-wanita itu tiap subuh. Cih! kamu pikir kamu tampan? Kamu pikir kamu bisa main-main denganku? Kamu salah tuan. Uh cup cup cup, apa aku tidak salah lihat? sejak kapan air mata menjadi halal mengalir di matamu? Bukan...

Sebuah Senja di Bangku Taman Bersamamu

Image
Sebuah bangku taman di depan sana, yang warna coklat kayunya mulai pudar, sedikit berbalut lumut hijau meng hitam, menyimpan memori tentang kita. Saat bias  keemasan bermain-main di atas kepala kita. Banyak sepeda berseliweran di jalan. Dan terdengar suara tawa yang berderai-derai dari segerombolan orang di ujung sana. Saat itulah kau ajak aku bicara dari hati ke hati. Saat semua orang hidup dalam hidup mereka. Kau memilih untuk hidup dalam hidupku. Tidak ada yang lebih indah dari memandang mata coklatmu yang semakin terang tertembus sinar mentari. Merasakan lembutnya belaian jari jemarimu menyusupi helai demi helai rambutku.

Sebatas Bulan

Image
Aku menghembus nafas berat. Kadang diselingi batuk-batuk. Yah memanglah aku ini sudah tua, hampir delapan puluh. Tertiup hembusan angin sedikit saja sendi ku sudah sakit-sakit. Rapuh sekali. Makanya banyak sekali orang yang kasihan pada kakek malang sepertiku.Yang sepanjang hidupnya membujang dan sendiri saja. Mereka acap kali berkumpul untuk membicarakanku, bagaimana membuatku bahagia, bagaimana membuatku bisa bersemangat lagi. Mereka membicarakannya tepat di dekatku sehingga aku bisa dengar rencana-rencana mereka yang jujur saja membuatku sedikit tidak nyaman.

Dua Gelas

Image
“Dia datang”, lelaki dengan apron itu segera merapihkan diri, tak mau kalah kinclong dengan gelas-gelas kaca yang berderet manis menyambut tamu di langit-langit pintu cafe Mega. Kawannya yang sibuk mengantar pesanan, menyempatkan diri untuk berbisik padanya “Jatahmu”. Ia mengangguk sambil tersenyum penuh arti. Semenjak istrinya mati tertabarak truk di depan pasar seminggu lalu. Seorang tamu istimewa yang biasanya jadi rebutan para pramusaji kini diserahkan dengan sukarela padanya. “Satu orange juice, satu apple juice”, wanita dengan tatapan sayu itu seperti biasa memesan dua gelas juice. Si pramusaji bahagia luar biasa, ia dengan cekatan menyiapkan apa yang menjadi pesanan sang tamu istimewa. Dibawanya dengan sangat hati-hati dua gelas juice yang luar biasa berarti. Tak akan dibiarkannya berdenting dua gelas ramping tinggi yang berisi cairan kental berwarna orange dan putih dengan topping buah segar. 

Setua Senja

Image
Senja ini aku menatapmu dengan selaksa cinta yang meletup-letup. Berlompatan ingin berlomba keluar dan menjamah tangan putih mu yang tinggal tersisa kulitnya saja, itupun tak sepenuhnya menempel lekat di kediammannya. Kepingan bias surya yang segera ingin berganti jaga dengan purnama, menghangatkan dada kita. Mendidihkan kembali darah kita, menggejolakkan hasrat yang tersembunyi dalam satu tempat yang tak satupun orang bisa menyentuhya. Tempat yang selama puluhan tahun ini coba kutelusuri, namun tak kunjung terkuak juga. Mungkin kamu juga begitu Sayang..., tak ada satupun dari kita yang tau dimanakah Tuhan menyimpankan untuk kita sebongkah cinta yang terbentuk dari serat-serat rindu, akal juga mungkin nafsu. Bisa jadi Ia mengelabui kita, bisa jadi segala tempat dimana cinta bersemayam itu digenggamNya sendiri. Tapi, saat aku menatap rona langit disenja ini, sambil terpesona dengan upaya merpati jantan mengejar betinanya, aku bersyukur pada Tuhan, walaupun tempat itu digenggamNya...

Larik Kecewa!

Image
Ibu melambaikan tangannya padaku. Kali ini dengan penuh sesak haru, yang membuatnya berkali-kali menarik kerah daster untuk melap air mata dan sesekali ingus. Aku tersenyum sehangat mentari di kala hujan, membalas lambaian tangan ibu yang nampak bangga padaku. Ini hari pertama aku bekerja sebagai penyiar. Bagi Ibu ini adalah kerja mulia. Ia merasa anaknya ini akan memikul amanah sebagai pahlawan yang menerangi sisi gelap otak-otak manusia yang tak tersentuh peradaban. Ia merasakan betul hal itu. Enam puluh lima tahun dalam hidupnya, termasuk ketika ia masih dalam perut simbah. Radio menjadi satu-satunya pengantar informasi yang ia tahu, penghubung antara dunia luar dan kehidupannya, serta pemberi berita tentang harga sekilo cabe merah di pasar Beringharjo. Masih dengan titik air mata berderai, ia merelakan punggungku pergi di bawa motor Honda pitung berwarna merah. Menyusuri jalan sempit yang meliuk rumit.

Pernikahan Dan Tangan Cantikku

Image
google Aku terlonjak bahagia ketika dia menyatakan siap mempersuntingku. Usiaku tak muda lagi, awal kepala tiga tepatnya. Tau sendiri usia tigapuluh merupakan usia yang lebih dari matang bagi seorang wanita untuk menikah. Dan yah sebenarnya yang membuat gerah adalah bisik-bisik tetangga dan selentingan dari keluarga yang selalu memburu-buru ku untuk menikah. Berkali mereka menanyakan tentang pernikahan, berkali juga aku berkelit."Semua akan indah pada waktunya", itulah senjata terampuh yang selalu ku lepaskan setiap Bu Dhe atau Pak Dhe bilang "Wah...kapan nduk, nyusul Adikmu tu lho". Agak jengah juga sebenarnya selalu ditanyai topik yang sama, aku tau itu tanda perhatian mereka, tapi perhatian berlebih seperti itu, apalagi untuk hal sensitif, rasanya cukup untuk membuat kuping merah dan membuatku malas menghadiri acara keluarga. Tapi in shaa Allah, penderitaan itu akan segera berakhir. Wito teman ku semasa SMA tiba-tiba menghubungi ku dan mengajakku menik...