Jujur Banget

Kemarin hari pertama ane ngajar di SD setelah sekian lama libur. Well I miss em so much, and I know they miss me too... haha GR banget. Eh tapi bener lho ya, ane sangat bahagia bisa ketemu sama mereka kemarin. Begitu ane dateng, mereka langsung heboh gitu "Miss Dhitaaaaa", terus biasa lah ritual peluk-peluk , salam-salaman, gondel-gondelan pokoknya kalo jadi guru SD jangan harap bisa tambah tinggi dah. Nah sampe di ritual godel-gondelan masih nyenengin lah ya... hal yang nyesekkin dimulai saat salah satu murid ane yang nemplok sedari ane dateng, mulai menyadari sesuatu. 

"Miss... kok kayaknya miss Dhita lebih besar ya"
"Nope... I just as big as before..." (sambil pasang tampang supaya dia percaya)
"I dont think so miss, you look bigger! TAMBAH BULET" (ngomong nya straight banget, mukanya datar tanpa dosa)
"Ya... kan liburan jadi miss Dhita banyak makan hehe" (mulai nyerah dan mengaku)
"Why dont u do sport? perumahannya miss Dhita kan luas"
"----" (mulai ga bisa berkata-kata)

Oke- itu kejujuran pertama yang bikin nyesek :D

Dan mari kita berlanjut ke acara nyesek yang kedua...

Masih dari murid ane yang nemplokin ane dari awal dateng, beneran deh ni anak ga ngebiarin ane pergi tanpa dia buntutin, katanya sih dia kangen banget ama ane... iye tau ane emang ngangenin :p, ini udah semacam takdir yang ga bisa di tolak #toyordirisendiri.

Tiba-tiba entah ada angin apa, ni anak tanya
"Miss Dhita umur berapa?"
"23"
"Masih muda ya..."
"Udah tua tauk ..."
"Ya paling enggak lebih muda dari ustadzah, kira in udah umur 30" (Jedaaaaar)

Tapi ane sih sante aja, ane sadar kok kalo ane ini bermutu (bermukatua) haha (sambil nangis dan ngelap ingus). 

Well that's the honesty . Ane benar-benar belajar tentang kejujuran dari anak-anak, kadang memang kejujuran itu menyakitkan, dalam konteks percakapan dengan murid ane, ane tidak menganggap itu suatu hal yang menyakitkan , sungguh. Ane menganggap itu semua kepolosan yang menyenangkan, bagai sebuah cermin yang benar-benar berfungsi sebagai cermin. Tapi ketika kita dewasa, kadang kita dikelilingi manusia penuh intrik yang berkata manis demi sebuah untung rugi. Yang menganggap hati kita rapuh sehingga mereka perlu me make up kata-kata mereka didepan kita. Yang ingin kita anggap baik sehingga tutur yang dikeluarkan harus dipikirkan beribu kali. Benar memang dalam menyampaikan kritik ada adabnya, jujur juga tidak harus selalu kejam. Tapi pun ketika kita menyampaikannya dengan penuh adab, sebaiknya esensi tetap bisa ditangkap.

Ane merindukan sebuah saran ataupun kritikan yang bisa membangun. Bukan manisnya bibir yang membuat ane semakin tersungkur dalam sebuah kebanggaan-kebanggaan semu. Kalau jelek ya tolong bilang jelek, kalau bagus ya bilang bagus. JUJUR LAH! terhadap orang lain dan utamanya terhadap Allah dan diri sendiri.

google
 





Comments