Posts

Showing posts from October, 2015

Jadi Baik Itu Masalah Kebiasaan

Image
Buku The Power of Habit itu sudah saya lihat lama, mungkin sekitar tiga atau empat bulan lalu ketika saya menyambagi toko buku. Namun ketika itu saya hanya meliriknya sekilas lalu berlalu melihat-lihat buku lainnya. Bagi saya, membaca sebuah buku haruslah berdampak, harus menggerakkan saya untuk berubah jadi lebih baik entah banyak entah sedikit. Membaca buku bukan sekadar baca lalu lupa tapi ada beban di sana. Nah, tentang The Power of Habit kenapa saya lewatkan begitu saja, karena pada saat itu saya merasa belum siap untuk mengetahui perihal kebiasaan dan lebih jelasnya saya belum siap mengubah kebiasaan. :D
Namun seiring berjalannya waktu, ada hal yang saya sadari. Saya tidak bisa begini terus, setiap melihat daftar keburukan yang saya punya, saya hanya menghela nafas, kapan ya bisa berubah? Dan akhirnya pada suatu masa saya mengambil keputusan untuk berubah. Ya, harus! Saya harus berubah. Saya langsung ambil kelemahan yang paling menonjol, yakni masalah ketepatan waktu, satu kele…

Merindukan Hujan Tanpa Mencaci Matahari

Image
Semalam, ketika harus keluar rumah untuk sebuah keperluan, kepala saya menengadah ke langit. Pekat. Bintang-bintang menyisih. Saya bahkan seperti membau aroma air yang siap meluncur dari lambung awan.  Alhamdulillah, sebentar lagi hujan. Langkah saya untuk keluar semakin mantab. Saya memang berniat ingin hujan-hujanan, terdengar jumawa sih, tapi bagaimana lagi saya dirundung rindu berkepanjagan. Saya ingin merasakan lagi jarum kecil-kecil yang tidak tajam itu menari salsa di permukaan wajah. Merasakan lagi dingin alami yang membasah di tubuh. Karena hanya dengan adanya dingin hujanlah mandi air hangat terasa nikmat. Tapi, sudah separuh pejalanan saya tempuh, hujan tidak juga datang. Awan-awan menepi dan langit kembali terang. Hei, berpindah kemana bergalon-galon air itu? Tidak bisakah menetes sedikit saja?
Katanya hujan itu berkah, yah mungkin malam itu memang bukan rejeki saya. Tapi siang tadi Tuhan kembali membuat saya berharap. Menurut kabar yang dikirim langit, hari ini akan turu…

Tentang Menyederhanakan Tujuan

Image
Ketika ditanya apa tujuan hidupmu? Jawabanmu apa?


Setiap orang punya jawaban yang berbeda - beda atas pertanyaan ini. Seperti halnya beberapa waktu lalu saat saya menonton Ini Talkshow di NET (Alhamdulillah finally di Jogja ada juga :D) Dedi Corbuzier yang kala itu jadi bintang tamu bilang, bahwa tujuan hidup dia adalah untuk membahagiakan Azka (anaknya), "Ya buat apa lagi? Gue kerja, gue hidup ya cuma buat dia (Azka)."
Oke! Itu contoh dari jawaban seseorang. Dan saya yakin bila kita melakukan survey pada satu juta orang maka bisa jadi jawabannya lebih dari satu juta,  karena sangat mungkin tujuan hidup seseorang tidak hanya satu, ada yang tujuannya A, B, C, dari yang baik sampai yang busuk.
Saya sering menanyakan pertanyaan ini pada diri sendiri, khususnya ketika saya melakukan sesuatu dan merasa kelelahan. Ketika melakukan sesuatu lalu merasa kesal.
Misal, saat saya siaran, tapi sms yang masuk sedikit, tidak bisa dipungkiri ada perasaan kecewa di sana (ha ha terkadang saya…

Kajian Kemuslimahan Bismillah Aku Berhijrah

Image
Menjadi diriku, dengan segala kekuranganMenjadi diriku, atas kelebihankuTerimalah aku seperti apa adanyaAku hanya insan biasa tak mungkin sempurna
-Edcoustic : Menjadi diriku-
Setiap orang ingin diterima apa adanya. Dengan segala kelebihan dan kekurangan. Saya setuju bahwa kita memiliki kelebihan dan kekurangan. Karena pada kenyataannya tidak ada orang yang 100% malaikat atau 100% setan. Manusia adalah perpaduan nafsu dan naluri, itulah yang membuat manusia unik.

Namun seringkali kita menggunakan kalimat "Terimalah Aku Apa Adanya" sebagai legitimasi atas kekurangan-kekurangan kita. Membuat kita manja dan mewajarkan kelemahan yang ada pada kita. 
Ya ini kan aku apa adanya, terima dong.
Parahnya, selain memaklumi kelemahan diri sendiri, kita juga sering memaksa orang untuk mafhum terhadap kelemahan kita. Lalu mau sampai kapan kita hidup dengan kelemahan itu? Apakah benar memang tidak bisa diperbaiki, atau kita hanya enggan? 
Terimalah aku apa adanya, bolehlah didendangkan, tapi …