Tuhan dan Hujan


Hujan Subuh ini membelai punggung bumi yang mulai renta
Serenta hati kita yang kadang tak sadar akan adanya Dia
Mungkin telinga kita meronta terbombardiri gemuruh petir yang bertubi
Tapi bukankah itu pertanda cinta Nya pada kita?
Pertanda bahwa dua cuping di kanan-dan kiri kita bukanlah asesoris semata



Lalu lihat, kulit yang gigil dibawah tempias hujan
Ada rasanya di sana
Tidak hanya tawar, dingin adalah rasa yang patut dipuji
Begitu banyak komponen cinta yang terlibat didalamnya
Angin, hujan, udara, kulit, tulang, otak, mulut... Sweater dari seorang teristimewa
Semua Ia bawakan untuk kita
Kulit kita masih bisa merasa, itu hikmah Nya

Maka nikmat Tuhan yang mana lagi yang kau dustakan?
Nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan wahai manusia, Sang pemimpin bumi?

Maka aku patut malu pada Tuhan. Bila dalam hujan ini aku meneteskan air mata karena keluh dan bukan lantaran syukur

gambar: google


Comments