Bedah Buku Cimat Cimut - Islamic Bookfair 2014 dan Cermin Diri

Alhamdulillah wa syukurillah, segala puja puji pengagungan hanya untuk Allah. 

Cimuters, taukah... di masa lalu ada seorang anak SMA. Dia adalah anggota club membaca di sekolahnya. Club tersebut mengadakan bedah buku dari seorang penulis keluaran pro-u, dalam hati orang itu bergumam, "Kapan ya, gue bisa kaya mas yang bedah buku itu? duduk di panggung memperkenalkan karyanya." Waktu berlalu, seseorang itu tidak memikirkan lagi apa yang dia gumamkan. Tapi ternyata hari ini gumaman itu dijawab oleh Allah. Hari ini si bocah itu duduk di panggung kursi dan memperkenalkan buku pertamanya pada teman-teman. Yup dia adalah ane. Manusia yang suka punya impian random dan percaya bahwa selirih-lirihnya kita berdoa, doa itu tetap didengar oleh Rabb-nya.


Cimat cimut, akhirnya dibedah. Diperkenalkan ke orang-orang. Jujur ane deg-degan. Ane nggak PD. Ane takut apa yang keluar dari mulut ane hanyalah sampah yang membuat para penonton membuang-buang waktu saat nonton talkshow ane. But show must go on. Bahkan ane percaya adanya ane di sana, jumlah penontonya dan segala sesuatu yang menyertai bedah buku sudah diatur jauh-jauh hari. Sebelum ane lahir.

Ane belum pernah bedah buku. Iya lah, secara ini anak pertama ane. Makanya ane gak tau apa yang harus ane omongin. Awalnya ane berfikir, apakah ane perlu memoles tiap perkataan, supaya kesannya jadi bagus. Supaya kelihatannya ane kaya orang alim. Perlukah?

Pagi ini ane dapat jawabannya. Tanpa sengaja biidznillah, ane dengerin MQ pagi bersama Aa Gym. Aa Gym bilang, "Nggak perlu lah kita itu ngomong banyak-banyak biar kelihatan pinter. Biar dianggap serba tau. Kalau nggak tau bilang aja nggak tau. Dibilang bodoh? biarin aja nyatanya kita emang bodoh kok."

Hm, bener juga ya, buat apa kita merekayasa jawaban. Ane akhirnya menjadikan bedah buku ini sebagai cerminan, sebenernya kapasitas ane tuh seberapa sih? Jawaban spontan tentu akan menguak siapa diri kita sebenarnya. Jarang kan kita dapat kesempatan buat "menelanjangi" diri kita sendiri?

Ya sudah. Bismillah. Ane nggak akan jadi siapa-siapa. Ane akan jadi apa adanya ane yang sekarang. Maka ketika pertanyaan-pertanyaan dilontarkan, ane jawab apa adanya. Setau ane, sebisa ane. Seadanya ane. Ane tau pasti ada pihak-pihak yang kecewa, tapi ane nggak pengen membohongi diri ane atau mereka. 

Dan saat inilah saat bermuhasabah. Memikirkan kembali jawaban-jawaban yang ane lontarkan pada mb nesya sebagai moderator atau teman-teman sebagai penanya. 

Ane merasa jawaban ane masih jauh dari nilai-nilai ilahiah. Masih terlalu arogan. Masih besar ke-aku-annya. Nah itulah yang harus ane perbaiki, bukan dengan cara membuat jawaban lalu menghapalkannya agar sisi-sisi buruk itu tidak keluar, tapi dengan membereskan sumber masalahnya. Apa? mendekatkan diri pada Allah. Tunduk dan patuh pada Nya.

Lagi-lagi ane harus bilang, bedah buku tadi adalah sebuah refleksi. Adalah sesuatu yang harus keluar dari tekonya. Kalau isinya teh akan keluar teh, kalau kopi ya kopi, sampah ya sampah. Dan dalam perjalanan ke depan ane coba memperbaiki hubungan ane denganNya, agar yang keluar dari teko itu adalah berlian yang mahal dan bisa dimanfaatkan dengan baik oleh para penonton (Bapak-bapak , ibu-ibu semuanyaaa... jangan heran kalau > sensor sensor sensor).

Terimakasih banyak pada semuaaaa yang menyempatkan datang, yang dikenal maupun tidak dikenal, kehadiran kalian adalah hadiah dari Allah yang luar biasa besar hari ini. Meskipun ada satu bagian tempat duduk yag hampir kosong, ane berharap teman-teman yang tadi memenuhi kursi mendapat manfaat dari apa yang disaksikan dan di dengar baik dari ane maupun umi Luluk. Saya berharap sore tadi waktu kalian tidak terbuang percuma. Maaf jika masih belum bisa memuaskan. Semoga next time bisa lebih baik lagi. 

Buat temen-temen yang sedang menginginkan apapun, hati-hati dengan permintaan kalian, karena jika Allah sudah berkehendak mengabulkan keinginan itu, bahkan Ironman tidak akan bisa mencegahnya. Salam arem-arem!

Comments

  1. Oalah kemarin datang ke islamic book fair ya? Islamic book fair yang di bali kah mba? :3

    ReplyDelete
    Replies
    1. bukan kakak... Islamic Bookfair Jogja :)

      Delete
  2. maqqdheett proud of you! yup jadi diri sendiri tetep lebih asyik, tak perlu ada yang ditutup-tutupi. Iyaaa, aku sepakat banget, kata-kata itu adalah doa, baik yng udah terlontar atau masih dalam hati, aku pernah mengalami

    ReplyDelete
    Replies
    1. makash mbak Ce, yah meskipun harusnya kita bisa jadi diri sendiri dan yang terbaik ya... meheheh... semoga kita bs berproses dg baik :) . Bener mbak Allah emang nggak pernah luput memperhatikan doa hambanya.

      Delete
  3. setuju banget mbak sama ini "selirih-lirihnya kita berdoa, doa itu tetap didengar oleh Rabb-nya." aku udah pernah ngalamin :')

    ReplyDelete
    Replies
    1. alhamdulillah... jadi sebenernya kita juga harus hati2 dalam berdoa ya nduk :)

      Delete
  4. Yuuuk.....terus bermimpi
    Love and proud of u

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasih mas Eraa... it's because of you and bunda's support :) makasih sudah mau percaya pada orang yg kadang impiannya random dan suka seenaknya :D

      Delete

Post a Comment