Salaman nggak yaaa?

SUMBER

Tiap ada momen ketemu keluarga, salaman dengan non mahram selalu jadi dilema tersendiri buat ane. Loh kenapa? Nah ini, pertanyaan kenapa ini yang jawabannya susah. Jadi cimuters, dari awal pas dapet hidayah dulu (saelah). Ane mengamati gerak gerik mbak-mbak akhwat dalam berinteraksi dengan lawan jenis. Jangankan salaman, mandang ada mereka malu-malu meong. Itulah yang membuat ane "ikut-ikutan" buat nggak salaman dengan lawan jenis. Setau ane waktu itu, salaman dengan non mahram hukumnya dosa dan jujur ane nggak baca lietartur apa-apa, ane cuma percaya dan ngikutin apa yang dilakuin mbak-mbak akhwat tanpa bertanya lebih jauh. Kalau waktu itu ane ditanya, "Kenapa nggak salaman?" Jawaban yang ada di kepala ane cuma- ya kan non mahram, dari salaman itu nanti bisa terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Sesimpel itu. Dan ane nggak akan bisa jelasin alasan lebih detilnya . 


Waktu itu ane strick banget terhadap hal ini. Ane nggak mau salaman dengan non mahram, SIAPAPUN ITU - termasuk sodara-sodara yang lebih tua. Hal ini bikin orang tua ane kaget, dan menganggap ane berlebihan. Loh tapi kan ane cuma menjalankan syariat, pikir ane waktu itu. "Tapi orang-orang jadi tersinggung" kata ibu. Hm... lantaran hal ini, ane jadi agak males buat dateng ke acara kumpul keluarga karena setiap ane mengatupkan tangan dan nggak salaman ane feel guilty :(

Lalu makin kesini ane merasa sepertinya ada yang harus diperbaiki. Bukankah aneh kalau cuma karena perkara salaman ane jadi malas bersilaturahim? Bukankah aneh kalau perkara salaman ini justeru membuat orang lain sakit hati? Well, sejujurnya untuk perkara begini ane masih berproses juga sih. Sekarang sih ane lebih fleksibel tapi prinsip ane tetap sama- bahwa salaman dengan non mahram sebaiknya dihindari. Kalau ane memang nggak pengen salaman, ane harus mengatupkan tangan lebih dulu jauh sebelum dia mengulurkan tangan dan ane harus pasang tampang supeeeer dupeeeer ramah. Jadi meskipun nggak salaman, ane pengen mereka tau bahwa ane melakukan itu bukan karena ane membenci mereka, tapi karena ane coba menjalankan syariat semampu ane. Nah, kalau orang itu udah mengulurkan tangan lebih dulu, untuk orang yang lebih tua (temennya babe misalnya) ane memilih buat menyambut uluran tangan itu meskipun cuma ujung ketemu ujung. Meskipun cuma nempel sedikit banget. Kenapa begitu, karena menurut ane ketika seseorang sudah mengulurkan tangan dan kita nggak menyambutnya, ada kemungkinan 1. Kita bikin dia malu di depan umum (dan ini nggak baik). 2. Kita bikin dia tersinggung. Kalau posisinya dia sudah mengulurkan tangan duluan, ane menganggap ane yang salah- karena ane tidak antisipasi. Nah sekarang hayuk kita cek sebenenrnya salaman dengan non mahram hukumnya gimana sih. Jangan cuma ikut-ikutan dan ngotot tanpa dasar ya guys.

Kalian bisa baca perkara itu selengkapnya di sini. Tapi di blog ini ane akan copy paste kan (haha nggak kreatip yak) bukannya gitu masalah beginian kan ane bukan ahlinya, takut aja kalau kebanyakan kreasi entar jatuhnya malah salah :D #alibi.

Di artikel yang ane baca itu disebutlah sebuah kesimpulan

Pertama, bahwa berjabat tangan antara laki-laki dan perempuan itu hanya diperbolehkan apabila tidak disertai dengan syahwat serta aman dari fitnah. Apabila dikhawatirkan terjadi fitnah terhadap salah satunya, atau disertai syahwat dan taladzdzudz (berlezat-lezat) dari salah satunya (apa lagi keduanya; penj.) maka keharaman berjabat tangan tidak diragukan lagi.


Jadi guys, dari artikel yang ane baca disebutkan tidak ada dalil yang mengHARAMkan jabat tangan antara lelaki dan perempuan. Kalau yang di pakai adalah hadits ini...
“Sesungguhnya ditusuknya kepala salah seorang di antara kamu dengan jarum besi itu lebih baik daripada ia menyentuh wanita yang tidak halal baginya.”
 Di sana dijelaskan bahwa hadits tersebut tidak shahih. Coba nanti kalian baca sendiri ya keterangan lebih lanjutnya.

Tapi salaman dengan non mahram juga harus memenuhi 2 syarat. 

Pertama tidak disertai syahwat : Jadi cimuters, meskipun kita salaman dengan mahram tapi disertai syahwat maka hukum salaman ini menjadi HARAM. Atau misalnya ada seorang pedofil yang salaman sama anak kecil, asalnya sih salaman dengan anak kecil ini boleh-boleh aja tapi berhubung dia pedofil maka dikhawatirkan salaman dia nggak sekedar salaman.Salaman dia salaman plus-plus. Nah Haram tuh hukumnya.

Kedua aman dari fitnah : Fitnah di sini ane juga nggak terlalu ngeh sih gimana maksudnya. Tapi kalau ane pribadi... ane pribadi lho ini, mengartikan fitnah di sini lebih kepada fitnah hati. Misal ada mas-mas ganteng ngajak salaman... takutnya ane yang lemah iman ini tergoda. Atau ane ngajak salaman mas-mas ganteng itu, takutnya mas itu jadi mikir macem-macem. Jadi mengotori hati dan pikiran. Kalau ada yang bilang...lebay lu ah... yaelah, jaman sekarang setan tuh canggih banget keleus, dari pandangan aja kita bisa kegoda apalagi pake acara salaman segala? Kita nggak pernah tau... jadi kalau buat ane sih mendingan menjaga diri kita supaya setan nggak punya pintu masuk buat macem-macem.

Em fitnah lainnya mungkin kalau ada seorang istri salaman sama temen cowoknya, saking mereka lama nggak ketemu mereka salamannya rada lamaan dan hal itu bikin suami si istri mikir enggak-enggak... nah itu juga bisa disebut fitnah. Terus nanti ada yang nyeletuk, Ah itu dasar si suami aja yang suka negatif thinking. Hello... Inget! suami punya hak penuh atas istri dan yang kedua nggak ada asep kalau nggak ada api.

Nah pas lebaran kemarin alhamdulillah ane berhasil buat nggak salaman dengan para non mahram, ya pakai jurus mengatupkan tangan dari kejauhan dan berwajah ceria ples SKSD. "Hallo.. maaf lahir batin yaaa...Gimana kabar? Lama nggak ketemu ya", "Tambah ganteng aja..." haha wait, ceria dan ramah bukan berarti menimbulkan fitnah baru ya. Urusan memuja memuji juga perlu dibatesin -_-. Itu ane terapin ke sodara-sodara yang masih muda ane yakin mereka open minded dan lebih bisa menghargai perbedaan prinsip. Tapi untuk yang lebih sepuh dari ane, kaya pakde, atau simbah misalnya... ane sih lebih milih salaman dan cium tangan. Dalam hal ini ane yakin syarat diperbolehkannya salaman terpenuhi semua. Untuk sodara jauh yang nggak terlalu kenal alhamdulillah ane juga berhasil nggak salaman, semoga nggak bikin mereka tersinggung deh. 

Yah, ane tau ane belum sempurna dalam menjalani seluruh syariat islam, tapi paling enggak ane pengen malaikat mencatat bahwa makhluk bernama dhita ini sudah berupaya semampu yang dia bisa.

Buat temen-temen yang punya pandangan lain, silahkan. Tapi apapun itu ketika kita memutuskan untuk melakukan sesuatu semoga kita sudah betulan tau ilmunya. Al ilmu qobla 'amal. Ilmu sebelum amal. Agar semuanya jadi enak dan maslahat. Agar prinsip kita lebih berdasar dan bisa dipertanggungjawabkan. :)

Wallahua'lam

Selamat lebaran. Kalau mau ngasih salam tempel rumah saya masih terbuka lebar :D





Comments

  1. pengen siih mba, begituu. tapi.. ntar dikira berlebihaaan gitu. padahal sebenernya aku kalo salaman sama temen cowok atau kakak" cowok sering kikkuk. -_- nggak tau kenapa

    ReplyDelete
  2. pengen siih mba, begituu. tapi.. ntar dikira berlebihaaan gitu. padahal sebenernya aku kalo salaman sama temen cowok atau kakak" cowok sering kikkuk. -_- nggak tau kenapa

    ReplyDelete

Post a Comment