Aku memilih pulang

Aku sadar, bahwa aku sudah terlalu banyak bertanya. Tentang ini dan itu. Tentang masa depan yang tidak terlihat bahkan setitik saja. Aku tidak bisa menerawangnya, memastikan apakah semuanya akan menjadi baik-baik saja atau menjadi buruk. Tapi aku sibuk menerka-nerka, menghubung-hubungkannya dengan apa yang terjadi padaku kini. Dan akhirnya aku begitu ketakutan menghadapi apa yang belum terjadi. Seperti anak SD kelas satu yang ketakutan tidak lulus ujian nasional. Gagal. Aku telah gagal memahami...

Aku tahu, segala sesuatu di alam semesta ini berkaitan. Keputusan yang kita ambil sekarang akan berdampak pada apa yang terjadi esok. Tapi terkadang aku lupa, Allah yang sesungguhnya akan mengatur segalanya. Dan aku memilih jalan pulang...

Alhamdulillah, di tengah kekalutan, aku punya sesuatu yang bisa kudengar. Nasihat dari seorang syaikh. Terimakasih kepada Allah yang telah menciptakan manusia-manusia cerdas yang mampu memotong dimensi ruang dan waktu sehingga aku yang ada di Indonesia bisa mendengar ceramah luar biasa dari ustadz di Amerika sana. 

Shalat Istikharah, itu judul ceramahnya.

Saat kita bingung, kalut, lalu kita ingat Allah, melakukan istikharah, tandanya kita sudah memasrahkan dan mempercayakan segala urusan kepadaNya. Ketika hal itu terjadi, tenanglah, Allah akan mengatur segalanya untuk kita, sebaik-baiknya.

Mungkin kita sering menggunakan GPS, saat kita pergi dan salah arah maka GPS tersebut akan berteriak, wrong direction, atau semacamnya. Intinya GPS tersebut akan mengarahkan kita ke jalan yang benar. Nah, dalam Islam, Shalat istikharah adalah GPS kita. 

Saat sudah melakukan istikharah dengan tulus, benar-benar pasrah tanpa memperturutkan hawa nafsu, jangan menyesal. Allah telah menunjukkan jalan terbaikNya untuk kita.

Lepas istikharah, kita juga bisa meminta nasihat pada orang-orang yang mengerti, yang lebih berpengalaman,bisa jadi jawaban mereka adalah bagian dari jawaban istikharah, karena sesungguhnya jawaban istikharah tidak perlu menunggu mimpi.

JawabanNya adalah sebuah kemantapan dalam hati. 

Lalu bagaimana kalau kita salah mengambil keputusan?

Karena sejak awal kita telah mempercayakan semua pada Allah, maka Allah akan membuat yang baik-baik saja untuk kita. 

Istikharah memang bukan hanya perkara nikah, tapi karena selama ini istikharah identik dengan hal tersebut maka contoh ini juga akan mengarah ke sana.

Misal kita shalat istikharah untuk memilih pasangan. Lalu tanpa kita tahu, ternyata keputusan kita salah. Allah yang akan mengatur segalanya, akan ada sesuatu yang terjadi yang membuat pernikahan kita tidak jadi terlaksana. Mungkin kita sakit, tapi itulah keputusanNya. Yang terbaik untuk kita.

Namun jika pernikahan tersebut baik untuk dunia dan akhirat kita, Allah akan arrange agar pernikahan tersebut terjadi. Tenanglah :)

Bacalah doa istikharah ini, betapa kepasrahan pada apa yang Allah pilihkan untuk kita begitu menenangkan batin. Allah....

Allahumma inniy astakhiiruka bi ‘ilmika wa astaqdiruka biqudratika wa as-aluka min fadhlikal ‘azhim, fainnaka taqdiru wa laa aqdiru wa ta’lamu wa laa ‘Abdullah’lamu wa anta ‘allaamul ghuyuub. Allahumma in kunta ta’lamu anna haadzal amru khairul liy fiy diiniy wa ma’aasyiy wa ‘aaqibati amriy” atau; ‘Aajili amriy wa aajilihi faqdurhu liy wa yassirhu liy tsumma baarik liy fiihi. Wa in kunta ta’lamu anna haadzal amru syarrul liy fiy diiniy wa ma’aasyiy wa ‘aaqibati amriy” aw qaola; fiy ‘aajili amriy wa aajilihi fashrifhu ‘anniy washrifniy ‘anhu waqdurliyl khaira haitsu kaana tsummar dhiniy.”

Ya Allah aku memohon pilihan kepada-Mu dengan ilmuMu dan memohon kemampuan dengan kekuasaan-Mu dan aku memohon karunia-Mu yang Agung. Karena Engkau Maha Mampu sedang aku tidak mampu, Engkau Maha Mengetahui sedang aku tidak mengetahui, Engkaulah yang Maha Mengetahui perkara yang gaib. Ya Allah bila Engkau mengetahui bahwa urusan ini baik untukku, bagi agamaku, kehidupanku dan kesudahan urusanku ini -atau beliau bersabda: di waktu dekat atau di masa nanti- maka takdirkanlah buatku dan mudahkanlah kemudian berikanlah berkah padanya. Namun sebaliknya ya Allah, bila Engkau mengetahui bahwa urusan ini buruk untukku, bagi agamaku, kehidupanku dan kesudahan urusanku ini -atau beliau bersabda: di waktu dekat atau di masa nanti- maka jauhkanlah urusan dariku dan jauhkanlah aku darinya. Dan tetapkanlah buatku urusan yang baik saja dimanapun adanya kemudian jadikanlah aku ridha dengan ketetapan-Mu itu”. Beliau bersabda: “Dia sebutkan urusan yang sedang diminta pilihannya itu”. (HR. Al-Bukhari no. 1162)
Allahuakbar!

Aku memilih pulang. Aku percaya saja padaNya, apapun yang Dia mau, aku mau. :)
 


Comments