Mengembalikan Privasi ke Laci Pribadi



Kita hidup di era sempit privasi. Di mana hal-hal pribadi menjadi barang mewah yang hanya bisa dirasakan oleh mereka yang teguh. Mereka yang saat ini mungkin dianggap aneh. Nggak up to date, nggak kekinian. Kehidupan belakangan menggiring manusia untuk lebih terbuka. Bebas berekspresi, sehingga batas pribadi dan umum menjadi kabur. 

Ambilah contoh pasangan suami istri. Tidak jarang kita dapati orang yang baru menikah misalnya, atau yang sudah lama juga, menunjukkan kasih sayang mereka melalui sosial media. Semua orang seolah harus tahu aktivitas kasih sayang tersebut. Di mana si suami mengirimkan pesan ke dinding facebook istrinya, beruntung sekali saya dapat istri yang cantik, shalihah, baik, istriku I LOVE UUU muah. Lalu nanti istrinya menjawab dengan jawaban tak kalah mesra, hingga percakapan-percakapan khas suami istri itupun (Yang seharusnya bisa dilakukan secara pribadi, berdua saja) berlanjut di ranah publik. Awalnya saya pikir itu keren, bahkan saya pernah berkeinginan punya suami yang tidak malu mengungkapkan rasa cintanya di depan umum, namun setelah saya pikir ulang, buat apa? Buat apa saya menginginkan itu semua? Apakah untuk menunjukkan pada semua orang betapa beruntungnya saya memiliki suami penyayang? Atau agar semua orang di seluruh dunia tahu bahwa pernikahan kami bahagia?

Ya, privasi menjadi barang langka kini. Cinta diukur dari seberapa takjub orang lain atas hubungan kita. Tidak cukup pada hubungan itu sendiri. Maka betapa senang saya membaca surat dari jaman dahulu kala, yang ditulis ibu kepada bapak , dan membaca balasan yang ditulis bapak kepada ibu. Kalimat-kalimat yang ada di sana begitu sederhana, namun penuh dengan muatan. Panjang, berisi kisah sehari-hari yang sepele. Mereka tidak berfikir bagaimana membuat orang lain terkesan dengan romantisme mereka. Mereka menjaga romantisme itu hanya untuk mereka sendiri. Di atas selembar kertas yang diantar oleh pak pos. Hanya ibu yang tahu dan hanya bapak yang tahu kala itu :)

 Sekarang berapa orang yang bisa tahan untuk tidak memposting foto dirinya dengan suami, dirinya dengan anak-anak. Bukan salah mereka tentu saja, karena jaman yang menuntut kita untuk jadi begitu terbuka. Untuk menjadi kekinian. Saya menulis ini hanya karena saya ingin mengingatkan diri sendiri. Tidak semua urusan pribadimu harus diketahui orang. Kebahagiaan tidak membutuhkan pengakuan dari orang lain. Bersenang-senanglah dengan bebas tanpa memikirkan apakah orang lain suka, tanpa merasa kecewa saat seseorang tidak melempar komentar atau memberi tanda suka. Simpanlah hal-hal privasi itu dalam laci pribadi, untuk menghormati bayak hati yang mungkin belum seberuntung kita. 

*Saya sedang belajar menahan. Pun menahan posting di fb yang berlebihan. Maka melalui tulisan ini saya ingin menyampaikan sebuah komitmen, bahwa mulai hari ini saya membatasi diri saya untuk terhubung dengan FB maupun TWITTER hanya di malam hari lepas kerja. Saya ingin merasakan, bagaimana rasanya terhubung dengan teman-teman secara nyata, memberi perhatian pada mereka secara penuh tanpa sedikit-sedikit menengok notifikasi. Sahabat yang baik, tolong bantu ingatkan saya. Terimakasih :)

pict : pixshark.com

Comments