Lelaki itu Senang dan Menyenangkan



Meskipun tidak sering namun saya dan teman kantor beberapa kali mampir ke sebuah toko yang menjual barang-barang untuk perempuan, mulai assesori seperti jepit rambut, parfum, buku diary yang lucu-lucu sampai pakaian atau sepatu. Toko perempuan itu ternyata tidak hanya dikunjungi oleh perempuan, banyak juga laki-laki yang turut serta. Mungkin diajak kekasihnya. Mereka duduk di sebuah kursi yang disediakan,  memasang wajah bosan yang tak berkesudahan, atau ikut pacarnya ke sana kemari sambil pasang tampang buru-buru ingin pergi. Bisa dipahami, berada di situasi serba girly mungkin membuat lelaki tidak nyaman. Seperti halnya saat perempuan anggun nan jelita harus duduk dalam sebuah tempat game online yang isinya didominasi kamu Adam. 

Tapi, ada peristiwa menarik yang saya lihat kemarin. Kondisinya hampir sama, hanya saja saat itu saya sedang berada di toko busana muslimah. Beberapa bapak memang duduk saja menunggu istrinya belanja baju. Lama? Sudah pasti. Perempuan itu-- tahu baju seperti apa yang akan dibeli saja tetap akan ragu-ragu dan pilah pilih dulu sebelum membeli. Apalagi perempuan yang jika ditanya, "Mau beli baju yang kaya apa sih?" menjawab, "Ya... lihat nanti aja di sana," tidak punya gambaran, dan belum punya pilihan, bisa dipastikan waktu dzuhur ke ashar tidak cukup untuk memilih satu jilbab dan baju. Maka wajar jika bapak-bapak  berancang-ancang dengan memilih tempat duduk ternyaman.

Di tengah pemandangan itu, saat saya bolak-balik memilih jilbab ada seorang Bapak ikut-ikutan jongkok disebelah saya, memilih jilbab? Ya, ia nampak asik dan sibuk memilih jilbab. 

Karena pemandangan ini cukup langka, maka diam-diam pandangan saya mengikuti Bapak itu. Istilah jaman sekarang sih saya stalking si Bapak. Penasaran aja gitu. Dan setelah dia memilih jilbab, ternyata dia pergi ke seorang perempuan, mungkin istrinya. Lalu ia seperti menawarkan jilbab pilihannya. Setelah si perempuan mencoba-coba, si perempuan nampak mengembalikan jilbab pilihan si Bapak. Mungkin tidak cocok. Lalu si Bapak kembali sibuk mencari-cari jilbab untuk ditawarkan. Dalam hati, saya cuma bisa bilang, waaah sooo sweeet. Si Bapak adalah contoh lelaki suamiable :D Tapi bukan itu poinnya.

Well, kita sering berada dalam situasi tidak mengenakkan. Berada di sebuah tempat dalam waktu yang tak tepat. Wajar saja jika kita merasa sebal, BT, emosi. Tapi masalahnya kita sudah terlanjur berada di tempat itu, dan kita tidak bisa keluar. Apa iya kita mau terus-terusan BT, padahal kita harus di sana dalam waktu yang cukup lama. Bukan hanya itu, saat perasaan hati tidak enak, sesungguhnya tidak hanya berimbas pada diri kita sendiri, tapi juga pada orang di sekitar kita. Kita menjadi orang yang tidak menyenangkan. Ya iyalah, nyenengin diri sendiri aja susah, apalagi mau nyenengin orang lain.

Nah dari Bapak itu kita belajar, bagi lelaki nganterin istri beli baju dan milih-milih mungkin membuat rasa tidak nyaman, tapi sepertinya si Bapak itu mencoba untuk menghibur hatinya sendiri. Mencari alasan yang bisa membuatnya bersenang-senang dalam ketidak nyamanan. Bisa jadi alasan tersebut begitu simpel seperti - kebersamaan. Ya, alih-alih sebal dengan istrinya yang lama memilih baju atau jilbab, ia memilih untuk menghargai setiap detik kebersamaan. Hei, bukankah pergi berlama-lama dengan orang yang disayang adalah kesenangan. Maka saat dia sudah menang melawan ketidaknyamananya, menyadari kebersamaan indah bersama istrinya, dia bisa lebur di sana, ikut menyenangkan hati istri dengan turut memberi saran, jilbab mana yang bagus. Toh sebenarnya istri ingin terlihat paling cantik di depan suami, maka dalam hal ini selera suami begitu penting.

Orang-orang dengan hati penuh kesenangan, memang akan lebih mudah berbagi kesenangan. 

Saat tak nyaman, mari cari alasan untuk tetap senang agar kita juga dapat kesempatan untuk jadi menyenangkan. Pasti ada, insyaAllah :) 

pict :wittyfeed.com

Comments

  1. Bener ! bener bener banget, bersama laki laki itu memang menyenangkan tapi ingat jangan berlebihan :)

    ReplyDelete

Post a Comment